Sistem Drainase
Perkotaan Berwawasan Lingkungan
Drainase secara sederhana
merupakan cara untuk mengalirkan air menuju ke suatu tempat pembuangan akhir,
yang berupa sungai dan laut. Pengertian drainase perkotaan tidak terbatas pada
masalah teknik pembuangan air berlebih, berupa dimensi saluran untuk
mengalirkan air, namun juga berkaitan dengan banyak aspek yang berada di
kawasan perkotaan.
Akibatnya, distribusi air yang
timpang antara musim penghujan dan musim kemarau, dimana debit banjir meningkat
pada mu-sim penghujan serta ancaman ke-keringan pada musim kemarau.
Untuk melindungi sumber daya air
serta pemanfaatannya terbit Undang-Undang Pengelolaan Sumber Daya Air Nomor 7
Tahun 2004, yang secara umum terdiri dari tiga aspek, yaitu:
- - Konservasi /perlindungan sumber daya air.
- - Pendayagunaan (pengembangan, pemanfaatan) sumber
daya air.
- - Pengendalian daya rusak air.
Pengembangan sumber daya air
ditujukan untuk peningkatan kemanfaatan fungsi sumber daya air, guna memenuhi
kebutuhan air baku untuk rumah tangga, pertanian, industri, dan untuk berbagai
keperluan.
Beberapa teknologi pengenda-lian
air permukaan sekaligus pe-nanganan drainase antara lain waduk lapangan dan
sumur resa-pan. Dimana waduk lapangan di-kaitkan dengan kepentingan ke-nyamanan
kota, sarana rekreasi kota, ataupun budidaya perika-nan. Sementara sumur
resapan merupakan teknologi yang dapat dikembangkan oleh masyarakat, yang dapat
menyerap air berlebih.
Sumur resapan untuk menam-pung
air hujan bertujuan untuk menahan selama mungkin air hu-jan di bawah permukaan
tanah, sehingga tidak menimbulkan ma-salah di permukaan. Tujuan dari sistem ini
adalah untuk melesta-rikan dan memperbaiki kualitas lingkungan, membantu
menang-gulangi kekurangan air bersih dan membudayakan kesadaran ling-kungan.
Konsep dasar sumur resapan adalah
suatu sistem drainase di mana air hujan yang jatuh di atap atau lahan kedap air
ditampung pada suatu sistem resapan air. Ber-beda dengan cara konvensional di
mana air hujan dibuang atau dialirkan ke saluran menuju su-ngai atau laut, cara
ini mengalir-kan air hujan ke sumur resapan yang dibuat di halaman rumah. Sumur
resapan ini merupakan su-mur kosong dengan maksud ka-pasitas tampungannya cukup
be-sar sebelum air meresap ke dalam tanah.
Dengan adanya tampungan, maka air
hujan mempunyai cukup waktu untuk meresap ke dalam tanah. Pada rumah tinggal
yang memiliki ukuran luas halaman yang terbatas, dapat dibuat sumur resapan
bersama (kolektif), di mana sebuah sumur resapan ko-lektif dapat melayani
beberapa ru-mah tinggal atau kawasan yang lebih luas.
Seperti pada sumur resapan
in-dividual, sumur resapan kolektif juga harus memperhatikan jarak dan tata
letak yang tepat serta kriteria lainnya agar dapat ber- fungsi dengan baik.
Pada saat ini, sudah
dikembang-kan pula teknologi sederhana un-tuk konservasi lahan dan air ber-sih
air berupa lubang mini penye-rap air yang diberi nama lubang biopori. Konsep
ini lebih sederha-na dari sumur resapan, karena tidak membutuhkan lahan yang
luas serta biaya yang lebih murah.
Manfaat yang bisa diperoleh dari
lubang biopori ini antara lain konservasi air bersih; membantu pengolahan
sampah domestik, karena setelah dibuat lubang-lubang dengan garis tengah 10 cm
dan kedalaman 100 cm, lubang-lubang itu kemudian diisi dengan sampah berupa
daun-daun ron-tok dan sampah organik lainnya supaya daya serap air menjadi
lebih baik; menjaga kesuburan tanah; serta mengurangi banjir.
Apapun teknologi yang ada dan
berkembang, hendaknya terus di-upayakan untuk menjaga ling-kungan agar supaya
tetap sehat dan aman dan sumber daya yang ada didalamnya dapat dimanfaat-kan
oleh kita semua dengan se-baik-baiknya dan berkelan-jutan.
http://www.hariankomentar.com/arsip/arsip_2007/jul_05/lkOpin001.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar